Percakapan tentang politik ini terjadi antara:
Mr. Chamank ( wakil kaum inteligensia ),
Si Bagol ( wakil pedangang kelas menengah ), Si Ucil ( wakil kaum tani ),
Dodi Smokers ( wakil kaum ninggrat ) dan Si Tengker ( wakil kaum buruh ).
Arti sederhana Merdeka!
Si Ucil : Selamat pagi, apa kabar?
Si Bagol : Terlampau panjang ini saudara! sekarang masa perang dan masa berontak, ucapkan saja yang pendek dan tepat saja! "Merdeka"!! begitu. Pendek, tepat, dimengerti dan membangunkan perasaan bertarung. Ucapan yang panjangtadi asalnya dari terjemahan Belanda. Kalau nanti berbau-bau NICA, tentu engkau dicari buat dibawa ke Batalyaon X.
Si Ucil : Memang saya tak tau yang demikina itu. Tapi sudah jadi kebiasaan saja. Di sekolah rendah dipelajari dan diucapkan begitu. Tetapi sekarang satu dua kali juga saya ucapkan “MERDEKA” kalau berjumpa pengawalan di jalan-jalan. Tetapi terus terang saja, saya belum tahu betul artinya “MERDEKA” itu.
Si Bagol : Cil, saya pun tak paham betul akan arti perkataan itu. Tetapi contoh ini bias member penerangan. Engkau itu burung gelatik. Dia bias terbang kesana kemari, dari pohon yang satu ke pohon yang lain mencari makan. Alangkah senang hatinya. Dimana ada makanan disana dia berhenti makan sambil menyanyi. Kalau hari senja dia pulang ke sarangnya selalu riang gembira.
Si Ucil : Betul senang kelihatan diluar. Tetapi kelihatan dari luar saja. Belum tentu hatinya sang Gelatik sendiri selalu senang. Belum tentu pula burung Gelatik itu selalu menyennangkan rang lain. Kemerdekaan semacam itu tak begitu memuaskan.
Si Bagol : Bagaimana tak memuaskan, Cul! Bukankah “Merdeka” seperti burung di udara selalu dipuji, selalu diambil sebagai contoh?
Si Ucil : Tadi sya bilang belum tentu hatinya sang Gelatik itu selalu senang. Bung Bagol memang orang kota, memang punya perusahaan buat hidup sendiri. Tak perlu banyak takut sama ini dan itu. Tetapi bung bagol jangan lupa, bahwa sang Gelatik selalu diintai musuhnya. Kucing atau berangan ialah musuh besarnya. Brurng Elang lah musuhnya yang paling besar. Sang manusiapun bias sewaktu-waktu menangkap atau menembaknya.
Si Bagol : Sang Gelatik toh bias lari terbang?
Si Ucil : Ya, memang dia bias lari terbang!! Cuma kecakapan yang diperolehnya dari alam itu saja yang bisa melindungi jiwanya. Tetapi mana ada adat atas undang-undang masyarakat yang melindunginya? Bahkan, mana masyarakatnya sang Gelatik?
Si Bagol : Benar juga Cil! Engkau memang dari desa, yang masih hidup di alam. Memang di alam itu undang-undang yang berlaku ialah: besar hendak melanda. Tetapi dalam masyarakat pun begitu juga, bukan?
Si Ucill : Memang masyarakat kita juga belum sempurna. Tetapi jauh lebih sempurna dari masyarakat burung atau hewan yang lain.barangkali kita manusia pun tak akan sampai masyarakat yang sempurna. Tetapi kita senantiasa, selangkah demi selangkah bisa menghampiri kesempurnaan . . .
Si Bagol : Aku tak sngka kau seorang ahli filsafat, Cil! Rupanya tadi engkau berlaku pura-pura bodoh saja. Tetapi tunggu dulu! Baik kita kembali ke pokok perkara. Engkau sudah terangkan bahwa sang Gelatik belum tentu selalu berhati senang, karena musuh selalu mengintai. Tak ada undang-undang atau adat masyarakat burung yang dapat melindungi masyarakat burung. Tetapi engkau belum terangkan, bagaimanakah sang Gelatik yang hina papa itu bisa tidak menyenangkan orang lain, bisa mengganggu orang lain?
Si Ucil : Memang rupa sang Gelatik itu hina papa! Tapi kalau satu rombongan saja Gelatik itu sampai kesawah kami, mereka merdeka dan merdeka pula memusnahkan hasil pekerjaan kami. Dari mas meleku samapai menanam padi, dari waktu padi masih hijau kecil sampai kuning matang, kami mengeluarkan jerih payah dan peluh keringat. Sekarang sesudah jerih payah kami memperlihat kan hasilnya datanglah rombongan Gelatik yang tidak mengeluarkan keringant setetespun dan susah gelisah sedikit pun atas hasil pekerjaan kami tadi. Tetapi dengan tidak meminta izin lebih dahulu, dan dengan tak malu-malu mereka bersuka ria, bersenda gurau di atas tangkai padi, memilh buah yang matang dan bernas. Bukankah kemerdekaan seperti itu kemerdekaan orang tak berusaha yang merampas hasil kerjaan orang lain yang mengeluarkan tenaga?! Merdeka semacam itu berarti merdeka mermpas! Inilah sebenarnya akibatnya kemerdekaan yang liar. Apa gunanya “MERDEKA” seperti itu untuk masyarakat manusia??
Si Bagol : Wah, Cil. Ini gara-gara “ selamat pagi” apakabar tadi. Tetapi memperbincangkan arti “MERDEKA” itu bukan lagi perdamaian yang aku peroleh dalam dalam hatiku. Memang semua perkara yang engkau kemukakan tadi yang berhubungan dengan “kemerdekaan” itu benar belaka. Sekarang saya sendiri dalam kekacauan pikiran. Aku sendiri mau tau pula “apa merdeka yang sebenarnya”.
Si Ucill : mari kita bertanya kepada mereka yang lebih ahli!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar